Connect with us

Hi, what are you looking for?

Sorotan

Terungkap Afifah Bohongi Publik, Kepala Sekolah SMPN 12 Bantah Tahan Ijazah Siswa.

Faisal bersama orangtuanya.(Istimewa)

Dapur Remaja Radio| Depok.

Terungkap sudah, Afifah lakukan pembohongan publik, penghinaan dan pencemaran nama baik rivalnya dan institusi pendidikan dalam debat terakhir.

Di hadapan seluruh rakyat Indonesia, ia menyatakan kemarin saya minggu lalu baru mengambil ijasah siswa yang DITAHAN di SMPN 12.

Dan ternyata ini adalah kebohongan.”Sebagai warga Depok, saya terkejut benarkah masih ada penahanan ijasah di sekolah negeri, saya curiga, karena setahu saya SDN dan SMPN, tidak
dipungut biaya. Maka saya mencoba menelusuri kebenarannya. Ternyata yang terjadi berbeda dari yang dinyatakan,“ ujar Berlin Panggabean, tokoh masyarakat sekaligus pengamat sosial ini.

“Kepala SMPN 12, Antoni mengatakan dirinya mendapat telpon dari Rudi Kurniawan pada tg 25 Nopember yang merekomendasikan ada yang mau mengambil ijasah yang masih tertahan di SMPN
12 dan minta diambil hari itu juga, karena menyangkut hal tersebut ia harus koordinasi dengan wali kelas si anak, Antoni meminta waktu. Di WA tersebut juga di sampaikan tanda bukti kelulusan atas nama Faisal Dwi Anggara , KK dan KTP orang tua atas nama Ekawati. Keesokannya Rudi Kurniawan kembali menelepon karena masih konsentrasi dengan peringatan Hari Guru maka orang
tua diberi waktu Jumat 27 Nopember 2020, untuk mengambil ijasah anaknya dan telah diberikan,”ujar Berlin Panggabean.

Yang jadi persoalan, menurut Antoni dan TU SMPN 12, TIDAK ADA PENAHANAN IJASAH. Yang terjadi adalah setelah dinyatakan lulus dan tanda kelulusan disampaikan secara online pada siswa,
dibulan September ijasah turun dari Propinsi Jawa Barat melalui Disdik Depok, lalu ijasah diisi , ditandatangani dan cap 3 jari siswa, baru setelah itu bulan Oktober dibagikan ke siswa.

Informasi Itupun sudah disampaikan kepada siswa sehingga sebagian besar sudah mengambilnya.

“Tidak ada penahanan apapun, bahkan bagi yang belum melunasi keuangan untuk pembuatan pas foto ataupun buku kenangan siswa pun ijasahnya sudah langsung diberikan. Karena bagi kami itu
tidak ada sangkut pautnya dengan sekolah, itu urusan Osis dan Komite Sekolah yang menggalang pembuatan foto dan buku tahunan dan itu juga sudah dianggap clear oleh mereka ,”ujar Antoni.

Pihak sekolah mengakui memang ada yang belum mengambil ijasah meski sudah diberitahu, mereka memaklumi, karena ini masa Pandemi, mungkin siswa yang kini sudah bersekolah di
jenjang yang lebih tinggi, belum merasa memerlukan. Apalagi ini baru dalam hitungan satu bulan, ditahun-tahun sebelumnya pun sudah biasa siswa baru mengambil ijasah pada saat diminta
fotocopy dan legalisir oleh sekolahnya yang baru. Kadang sampai dua tiga bulan setelah ijasah keluar, Dan itu bukan karena ada masalah penahanan ijasah dengan alasan apapun. Berlin pun mengaku telah menemui kedua orang tua siswa tersebut, Sudiono dan Ekawati.

Orang tua Faizal adalah buruh bangunan dan ibunya buruh cuci. “ Menurut kronologis cerita orang tuanya, ia ditanya oleh majikannya apakah ijasah anaknya sudah diambil di jawab belum karena ada sedikit tunggakan yang belum dibayar. Ketika disuruh ambil hari itu juga ia menolak karena merasa kurang enak. Majikannya pun menelepon seseorang yang ia tidak tahu siapa. Orang itu keesokannya kembali menelepon sang majikan dan menyuruh Ekawati kesekolah dan mengambil ijasahnya hari Jumat. Dan itu dilakukannya. Pihak sekolah pun yidak mempermasalahkan apa-apa hanya bertanya kenapa tidak diambil pada bulan lalu seperti lainnya, ia pun menjawab alasannya
apa adanya. Dengan kejadian ini baik pihak sekolah maupun orang tua siswa merasa terkejut permasalahan dibesar-besarkan bahkan sampai diberitakan secara nasional dalan debat seolah ada banyak penahanan ijasah yang tidak diketahui lawannya.

“Saya tidak berada di pihak manapun, tapi karena ini pembohongan publik dan manipulasi data, seharusnya Dinas Pendidikan, Sekolah yang ditunjuk dan juga pihak M. Idris harus menuntut pencemaran nama baiknya. Ini disaksikan orang se Indonesia lho, kasihan pihak sekolah yang tidak bermasalah ikut dipolitisir. Dan Dinas Pendidikan pun di media massa sudah pernah mengatakan tidak boleh ada penahanan ijasah. Dan kalau memang masih ada sekolah swasta menahan ijasah, bagaiamana sikap BMPSnya, sebab sudah sejak beberapa tahun lalau selain boleh menarik dana dari orang tua swasta juga menerima dana BOS, harusnya ada sikap BMPS mengenai persoalan ini.

Apalagi sekian lama mereka juga bersikap„menghalangi” diperbanyaknya sekolah negeri di Depok dengan alasan sudah banyak sekolah swasta yang bisa menampung siswa tidak mampu,” tandas Berlin Panggabean. (dr)

Comments

Anda Mungkin Juga Suka

Sorotan

Dapur Remaja Radio|Bojongsari. Sebanyak 13 RT dari 26 RT di Kelurahan Bojongsari Baru serahkan jabatan dan stempel kepada lurah Bojongsari, Bojongsari Depok, pada Rabu...

Sorotan

Dapur Remaja Radio|Bojongsari Baru Pembagian Honor penanggulangan Covid-19 di kelurahan Bojongsari Baru yang dikucurkan melalui anggaran APBD kota Depok, sebesar Rp.100 juta menuai aksi...

Sorotan

 Dapur Remaja Radio|Bedahan. Lumbung Pangan kelurahan Bedahan telah mendistribusikan 425 paket sembako kepada posko kampung siaga Covid-19 kelurahan Bedahan, kecamatan Sawangan, Depok .  “Alhamdulillah...

Ekonomi

Dapur Remaja Radio|Beji Dari mulai iseng-iseng, Putri Maulida Pemilik Aneka Minuman segar “Sun Happies” kini mulai membuka Usaha dengan Ibunya Kholifah. Meski baru di...

%d blogger menyukai ini: